Minggu, 08 November 2015

“Analisis Rasio Aktivitas dan Rasio Profitabilitas Perusahaan”

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Rasio Aktivitas
Rasio Aktivitas (Activity ratio) adalah rasio yang menunjukkan keefektifan sebuah perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya.[1] Rasio ini digunakan untuk menilai seberapa efisien perusahaan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Rasio ini merupakan ukuran yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti penjualan, penagihan piutang, pengelolaan persediaan, pengelolaan modal kerja, dan pengelolaan dari seluruh aktiva.

B.  Jenis-Jenis Rasio Aktivitas (Activity Ratio) Perusahaan
Adapun yang termasuk ke dalam rasio aktivitas adalah sebagai berikut:
a.    Total Assets Turn Over (perputaran aktiva)
Total assets turn over merupakan perbandingan antara penjualan dengan total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan kecepatan perputarannya total aktiva dalam satu periode tertentu. Total assets turn over merupakan rasio yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu.[2]
Total assets turn over merupakan rasio yang menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Jadi semakin besar rasio ini semakin baik yang berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba dan menunjukkan semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan.
Cara Perhitungan Total assets turn over, adalah :
Total Assets Turn Over

b.      Working Capital Turn Over (Rasio Perputaran Modal Kerja)
Perputaran modal kerja merupakan perbandingan antara penjualan dengan modal kerja bersih. Dimana modal kerja bersih adalah aktiva lancar dikurangi utang lancar. Perputaran modal kerja merupakan rasio mengukur aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancar serta menunjukkan banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja.[3]
Working capital turn over merupakan kemampuan modal kerja (neto) berputar dalam suatu periode siklus kas (cash cycle) dari perusahaan.[4] Modal kerja selalu dalam keadaan operasi atau berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam keadaan usaha.

Perputaran modal kerja dihitung dengan rumus:
Perputaran Modal Kerja

c.       Rasio Perputaran Aktiva Tetap (fixed assets turnover)
Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap. Fixed assets turn over mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik dan peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap.[5].
Jadi semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut.
Perputaran aktiva tetap dihitung dengan rumus:
Perputaran Aktiva Tetap

d.      Rasio perputaran persediaan (inventory turnover)
Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari inventory dan tendensi untuk adanya overstock.[6]
Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi pengelolaan persediaan barang dagang. Rasio ini merupakan indikasi yang cukup popular untuk menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen mengontrol modal yang ada pada persediaan. [7]
Rasio perputaran persediaan dihitung dengan rumus:
Rasio Perputaran

e.       Rata-Rata Umur Piutang
Rasio ini mengukur efisiensi pengolahan piutang perusahaan, serta menunjukkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk melunasi piutang atau merubah piutang menjadi kas. Rata-rata umur piutang ini dihitung dengan membandingkan jumlah piutang dengan penjualan perhari. Dimana penjualan perhari yaitu penjualan dibagi 360 atau 365 hari.
Rata-rata piutang ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rata-Rata Umur Piutang

f.       Perputaran Piutang
Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungn yang erat dengan volume penjualan kredit.
Posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut yaitu dengan membagi total penjualan kredit (neto) dengan piutang rata-rata. Perputaran piutang dapat diukur dengan rumus :
Perputaran Piutang

Makin tinggi rasio (turnover) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over investment dalam piutang (ditanam dalam jumlah tinggi).
C.  Tujuan dan Manfaat Analisis Rasio Aktivitas
Adapun tujuan dari penggunaan rasio aktifitas, antara lain:
a.       Untuk mengukur berapa lama penagihan piutang atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode.
b.      Untuk menghitung hari rata-rata penagihan piutang (days of receivable), dimana hasil perhitungan ini menunjukkan jumlah hari (berapa hari) piutang tersebut rata-rata tidak dapat ditagih.
c.       Untuk menghitung berapa hari rata-rata sediaan tersimpan dalam gudang
d.       Untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam modal kerja berputar dalam satu periode atau berapa penjualan yang dapat dicapai oleh setiap modal kerja yang digunakan (working capital turn over)
e.        Untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode.
f.       Untuk mengukur penggunaan semua aktiva perusahaan dibandingkan dengan penjualan.
Kemudian, terdapat beberapa manfaat yang dapat dipetik dari rasio aktivitas, antara lain:[8]
a.       Dalam bidang Piutang
a)    Perusahaan atau manajemen dapat mengetahui berapa lama piutang mampu ditagih selama satu periode. Kemudian,manajemen juga dapat mengetahui berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode.
b)   Manajemen dapat mengetahui jumlah hari dalam rata-rata penagihan piutangsehingga manajemen dapat pula mengetahui jumlah hari (berapa hari) piutang tersebut rata-rata tidak dapat ditagih.
b.      Dalam bidang Persediaan
Manajemen dapat mengetahui rata-rata sediaan tersimpan dalam gudang. Hasil ini dibandingkan dengan taget yang telah ditentukan atau rata-rata industri. kemudian perusahaan dapat pula dibandingkan hasil ini dengan pengukuran rasio beberapa periode yang lalu.
c.       Dalam bidang modal kerja dan penjualan
Manajemen dapat mengetahui berapa kali dana yang ditanamkan dalam modal kerja berputar dalam satu periode atau dengan kata lain ,berapa penjualan yang dapat dicapai oleh setiap modal kerja yang digunakan.
d.      Dalam bidang aktiva dan penjualan
Manajemen dapat mengetahui penggunaan semua aktiva perusahaan dibandingkan dengan penjualan dalam suatu periode tertentu.
D.  Pengertian Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya. Efektifitas manajemen disini dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan. Rasio ini disebut juga Rasio Rentabilitas.[9]
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya

E.  Jenis-Jenis Rasio Profitabilitas Perusahaan
Adapun yang termasuk rasio profitabilitas antara lain:[10]
a.    Gross Profit Margin (Margin Laba Kotor)
              Gross profit margin merupakan rasio yang mengukur efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya produksinya,mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien.
Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula sebaliknya, semakin rendah gross profit margin semakin kurang baik operasi perusahaan.
 (Gross profit margin dihitung dengan formula:
Gross Profit Margin

b.   Net Profit Margin (Margin Laba Bersih)
              Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin tinggi Net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan. Net profit margin dihitung dengan rumus:
Net Profit Margin


c.    Rentabilitas Ekonomi/ daya laba besar/ basic earning power
              Rentabilitas ekonomi merupakan perbandingan laba sebelum pajak terhadap total asset. Jadi rentabilitas ekonomi mengindikasikan seberapa besar kemampuan asset yang dimiliki untuk menghasilkan tingkat pengembalian atau pendapatan atau dengan kata lain Rentabilitas Ekonomi menunjukkan kemampuan total aset dalam menghasilkan laba. Rentabilitas ekonomi mengukur efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumberdaya yang menunjukkan rentabilitas ekonomi perusahaan.[11]
Rentabilitas Ekonomi dihitung dengan rumus:
Rentabilitas Ekonomi

              Rentabilitas ekonomi dapat ditentukan dengan mengalikan operating profit margin dengan asset turnover. Rendahnya Rentabilitas Ekonomi tergantung dari : Asset Turnover dan Operating Profit Margin. [12] 
(Operating profit disebut murni (pure) dalam pengertian bahwa jumlah tersebutlah yang benar-benar diperoleh dari hasil operasi perusahaan dengan mengabaikan kewajiban- kewajiban finansial berupa bunga serta kewajiban terhadap pemerintah berupa pembayaran pajak. Apabila semakin tinggi operatig profit margin maka akan semakin baik pula operasi suatu perusahaan. .[13]
  Operating profit margin dihitung sebagai berikut:
Operating Profit Margin

d.   Return On Investment (ROI)
              . Return on investment adalah merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan.[14]Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan suatu perusahaan. Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila di ukur dari nilai aktiva.[15]

Return on Investment dihitung dengan rumus:
ROI =
Net profit margin x Assets turn over
 /


e.    Return On Equity (ROE)
              Return on equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan total ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham prefern) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan.
 Return on equity adalah  rasio yang memperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham perusahaan. ROE menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut rentabilitas usaha. Return on equity dapat dihitung dengan formula:

Return on Equity

f.     Earning per share (EPS)
              Earning per share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar kemampuan perlembar saham dalam menghasilkan laba.[16] Oleh karena itu pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik akan earning per shareEarning per share adalah suatu indikator keberhasilan perusahaan.
Earning per share dihitung dengan rumus:

Earning Per Share

F.   Tujuan dan Manfaat Analisis Rasio Profitabilitas Perusahaan
Manfaat rasio profitabilitas tidak terbatas hanya pada pemilik usaha atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak luar perusahaan, terutama pihak – pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan.
Adapun manfaat dan tujuan penggunaan rasio profitabilitas, antara lain :
a.    Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu.
b.     untuk menilai posisi laba tahun sebelumnya dengan tahun sekarang
c.    Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu
d.   Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri
e.    Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri
f.     Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal sendiri
Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan posisi keuangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus sebagai evaluasi terhadap kinerja manajemen sehingga dapat diketahui penyebab dari perubahan kondisi keuangan perusahaan tersebut.[17]
C.  Perhitungan Rasio Aktivitas dan Rasio Profitabilitas
Neraca
PT SEJAHTERA SELALU
PER 31 DESEMBER 2014
( dalam ribuan rupiah )

Aktiva Lancar

Hutang lancar

Kas
200.000
Hutang dagang
300.000
Efek
200.000
Hutang wesel
100.000
Piutang
160.000
Hutang Pajak
160.000
Persediaan
840.000


Jumlah A.L.
1.400.000
Jumlah H.L.
560.000




Aktiva Tetap

Hutang J.Pnjng

Mesin
700.000
Obligasi
600.000
Akum. Penyusutan
100.000



600.000
Modal sendiri

Bangunan
1.000.000
Modal saham
1.200.000
Akum. Penyusutan
200.000
Agio saham
200.000

800.000

1.400.000
Tanah
100.000
Laba ditahan
440.000
Intangibles
100.000


Jumlah A.T.
1.600.000
Jml Modal sendiri
1.840.000




Jumlah Aktiva
3.000.000
Jumlah pasiva
3.000.000

Laporan Laba – Rugi
PT. SEJAHTERA SELALU
Periode 31 Desember 2014
                                                              ( dalam ribuan rupiah )

Penjualan
4.000.000
Harga pokok penjualan
3.000.000
Laba kotor
1.000.000
Biaya-biaya
570.000
Keuntungan sebelum bunga & pajak
430.000
Bi. Bunga obligasi ( 5 % x Rp 600.000 )
30.000
Keuntungan sebelum pajak
400.000
Pajak penghasilan
160.000
Keuntungan bersih setelah pajak
240.000
PERHITUNGAN RASIO :

RASIO AKTIVITAS


A.      Total Assts Turn Over

Penjualan Neto       400.000
--------------------- =  ------------
Jumlah Aktiva         300.000

=  1,33


Kemampuan dana yang tertanam dlm keseluruhan aktivaberputar dalam satu periode tertentu, Atau kemampuan dana yang diinvestasi- kan untuk menghasilkan revenue.

Dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva  rata-rata dlm  1 thn berputar 1,33X. Atau setiap 1 Rupiah setiap thn dpt meng- hasilkan Rp1,33


B.      Receivable Torn Over


Penjualan Kredit
------------------------
Piutang Rata-rata

4.000.000
------------------------ = 25 X
160.000


Kemampuan dana yang tertanam dalam piutang berputar dalam suatu periode tertentu.

Dalam satu tahun rata-rata dana yang tertanam dalam piutang berputar selama 25X


C. Average  Collection Period

Piutang rata-rata X 360
Penjualan Kredit

    160.000 X 360
------------------ = 14,4 hari
      4.000.000

Periode rata-rata yang dibutuhkan dalam pengumpulan pihutang

Piutang rata-rata dikumpulkan setiap 15 hari sekali.


D. Inventory Turn Over

Harga Pokok Penjualan
---------------------------------
Inventory Rata-Rata

        =  3.000.000
-------------  = 3,6 X
           840.000


Kemampuan dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam satu periode tertentu.

Dana yang tertanam dalam inventory  berputar rata-rata 3,6 X dalam satu tahun.



E. Average Day’s Inventory

Inventory rata-rata X 360
·         ----------------------------------
Harga Pokok Penjualan

   840.000 X 360
·         -------------------  = 10 hari
           3.000.000


Periode rata-rata persediaan berada di gudang .

Inventory berada di gudang rata-rata selama 10 hari.


F. Working Capital Turn
    over

Penjualan Netto
·         ----------------------------------
Aktiva lancar – H Lancar

4.000.000
·         --------------------------
1.400.000 – 560.000

= 4,76 X  atau 4,8 X

Kemampuan modal keja perusahaan berputar dalam satu periode siklus kas perusahaan

Dana yang tertanam dalam modal kerja  berputar rata-rata 4,8 X dalam satu tahun.



RASIO PROFITABILITAS

A. Gross Profit Margin

Penjualan Neto – Harga
Pokok Penjualan
----------------------------------
Penjualan Neto

4.000.000 – 3.000.000
--------------------------  X 100 %
4.000.000

= 25%

Laba Bruto per rupiah penjualan

Setiap Penjualan menghasilkan laba bruto Rp 0,25.





B.   Operating Income
     Ratio ( Operating
     Profit Margin)


Penjualan Neto – Hpokok
Penjualan – Biaya ADM dan
Umum
---------------------------------------
Penjualan Netto

4.000.000 – 3.000.000 –570.000
---------------------------------------
4.000.000

= 10, 75%

Laba sebelum Bunga dan Pajak  (net operating income) oleh setiap rupiah penjualan

Setiap rupiah penjualan menghasilkan laba operasi Rp 0,11.

C.      Operating Ratio





Hrg Pokok P enjualan + Biaya ADM + Biaya Penj + Biaya Umum
---------------------------------------
Penjualan Neto

3.000.000 + 570.000
------------------------- = 89,25 %
        4.000.000

Biaya operasi per rupiah penjualan .

Setiap rupiah penjualan memerlukan biaya Rp 0,89

Makin besar rasio makin buruk


D.      Net Profit Margin


Keuntungan Neto  sesudah Pajak
--------------------------------------
Penjualan Neto

240.000/4.000.000
= 6 %


Keuntungan neto per rupiah penjualan


Setiap rupiah penjualan menghsilkan keuntungan neto sebesar Rp 0,06

E.      Earning Power of
Total Investmen  rate of return of total assets)






EBIT
--------------------------
JML AKTIVA

            430.000
------------------ = 14,3 %
          3.000.000



Kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan
Aktiva  untuk menghasilkan keuntungan bagi semua investor.

Setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan menghasilkan keuntungan  Rp 0,14 untuk semua investor.


F.       Net Earning Power ratio / Return On Investment
(ROI)




Earninf After Tax
-----------------------------
Jumlah Aktiva

                240.000
=   -------------------- = 8%
              3.000.000


Kemampuan modal yang diinvestasikan
Dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan neto.



G.      Rate of  Return for
the Owners
(Rate of Return on
Net Worth)




Earning After Tax
----------------------------
ML Modas Sendiri

240.000
=    ----------------  = 13 %
1.840. 000

Kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen dan biasa.

Setiap rupiah modal sendiri menghasilkan keuntungan neto Rp 0,13 yg tersedia bagi pemegang shm preferen  dan biasa




[1] Hardono Mardiyanto, Intisari Manajemen Keuangan, (t.Cet; Jakarta: Grasindo, 2009),  h. 67
[2] Lukman Syamsuddin, Manajemen Keuangan Perusahaan, (t.Cet; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 19.
[3] Agnes Sawir, Analisa Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, (t.Cet; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 16
[4] Bambang Riyanto, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, (t.Cet; Yogyakarta: BPFE, 2008), h. 335.
[5] Op.Cit, h. 17
[6] Bambang Riyanto, Op.Cit, h. 334
[7] Agnes Sawir, Op. Cit, h. 15
[8] Http://www. laporankeuangan.co.id/ Tujuan Rasio Aktivitas. Html.
[9] Abdullah Amrin, Bisnis, Ekonomi , Asuransi dan Keuangan Syariah, (t.Cet; Jakarta: Grasindo, 2009), h.207.
[11] Ibid, h. 19
[12] Ibid.

[13] Lukman Syamsuddin, Loc. Cit, h. 61
[14] Ibid, h. 63
[15]Sofyan Syafri Harahap, Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan, (t.Cet; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), h. 63
[16] Ibid, h. 306
[17]Arief Sugiono,Manajemen Keuangan Untuk Praktisi Keuangan, (t.Cet; Jakarta: Grasindo, 2009), hal. 78