Rabu, 24 Desember 2014

Manajemen Keuangan : Kebijakan Dividen

BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertian Kebijakan Dividen
sebelum membahas lebih jauh tentang kebijakan dividen, maka terlebih dahulu perlu diketahui apa itu dividen? Nah, Dividen berasal dari bahasa Latin yaitu divendium yang artinya sesuatu untuk dibagi. Berikut ini beberapa pemaparan mengenai pengertian dividen:
1.      Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia dividen diartikan sejumlah uang sebagai hasil keuntungan yang dibayarkan kepada pemegang saham (dalam suatu Perseroan).
2.      Dalam dunia ekonomi dividen adalah seluruh laba bersih setelah dikurangi penyisihan untuk cadangan pajak yang dibagikan kepada pemegang saham (pemilik modal sendiri) kecuali ditentukan lain dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
3.      Menurut Bapepam dividen adalah porsi keuntungan perusahaan yang dibayarkan kepada para pemegang saham.
4.      Menurut Darmaji dan Fakhrudin (2001: 9) dividen adalah pembagian keuntungan yang dihasilkan perusahaan dan tersedia bagi pemegang saham.
5.      Menurut Husnan dan Pudjiastuti dividen adalah laba yang diperoleh oleh perusahaan dan tersedia bagi pemegang saham.

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dividen adalah laba yang diperoleh perusahaan untuk dibagikan kepada pemegang saham.
Selanjutnya berkaitan tentang pengertian kebijakan dividen.
Dalam melakukan perdagangan saham perusahaan akan memperoleh laba bersih. Laba bersih (net earnings) ini sering disebut sebagai: “Laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa” (earnings available to common stockholders) disingkat EAC. Laba bersih tersebut akan dikenakan pajak sehingga menjadi laba bersih sesudah pajak (earinings after tax atau EAT)[1]. Manajemen mempunyai dua alternatif perlakuan terhadap EAT ini yaitu:
1.      Dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan dalam bentuk dividen.
2.      Diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan (retained earning) untuk membiayai operasi selanjutnya.
Apabila manajemen memilih alternatif pertama artinya manajemen harus membuat keputusan tentang besarnnya EAT yang dibagikan sebagai dividen. Pembuatan keputusan tentang dividen ini disebut kebijakan dividen.
Bambang Riyanto (2001: 281) mendefinisikan kebijakan dividen sebagai “politik yang bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan di dalam perusahaan (laba ditahan).
Menurut Sundjaja dan Barlian (2003: 390) kebijakan dividen adalah rencana tindakan yang harus diikuti dalam membuat keputusan dividen.
Menurut Wetson dan Brigham (1990: 198) kebijakan dividen adalah keputusan untuk membagikan laba atau menahannya guna diinvestasikan kembali di dalam perusahaan.
Menurut Suad Husnan, kebijakan dividen dapat diartikan:
1)             Apakah laba yang diperoleh seharusnya dibagikan atau tidak.
2)             Apakah laba dibagikan dengan konsekuensi harus mengeluarkan saham baru.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen adalah kebijakan pembagian pendapatan yang harus diikuti dalam membuat keputusan dividen (dibagikan/ditahan).
Menurut Lukas Setia Atmaja (2003: 285) rasio antara dividen dan laba bersih sering disebut sebagai Dividend Payout Rasio (DPR), yang persamaannya adalah DPR = Total Dividend/ Net Income. Karena kelebihan laba bersih di atas dividen itu menjadi laba ditahan maka keputusan DPR inclusive keputusan mengenai laba ditahan. Sepintas, para pemegang saham akan merasa senang apabila bagian dari laba bersih yang dibagikan sebagai dividen ini semakin besar. Akan tetapi, apabila DPR ini semakin besar, berarti laba ditahan semakin menciut, padahal pendanaan dengan menggunakan laba ditahan (internal financing) ini mempunyai cost of capital yang paling kecil dibandingkan dengan metode pendanaan lainnya. Dengan demikian keputusan dividen akan mengacu pada suatu kebijakan (dividend policy) yang optimal, terutama disesuaikan dengan konsep tujuan memaksimumkan nilai perusahaan.[2]
Ditinjau dari memaksimumkan rentabilitas modal sendiri, maka kebijakan dividen perlu memperhatikan rentabilitas aktiva dan tingkat bunga. Dikatakan demikian, Karen apabila kebijakan menetapkan bahwa laba ditahan semakin besar berarti perusahaan ini menggunakan metode pendanaan dengan menambah modal sendiri, yakni pendanaan internal.
Kebijakan dividen merupakan salah satu sumber konflik antara manajemen dan principal karena dividen dapat merupakan suatu sinyal yang diberikan perusahaan kepada investor. Dividen yang dibayarkan secara tunai maupun konversi dengan saham mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan prospek yang baik di masa yang akan datang.[3]
B.     Pentingnya Kebijakan Dividen
Salah satu kebijakan yang harus diambil manajemen perusahaan adalah memutuskan apakah laba yang diperoleh selama satu periode akan dibagi semua atau akan dibagi sebagai dividen dan sebagian lagi akan disimpan sebagai laba yang ditahan. Apabila perusahaan memutuskan akan membagi laba perusahaan sebagai dividen, maka akan mengurangi kesempatan perusahaan dalam mendapatkan modal intern. Oleh karenanya, Dividen merupakan salah satu kebijakan yang penting dalam perusahaan, karena menyangkut pemegang saham yang notabene merupakan sumber modal dari perusahaan tersebut. Investor dalam menginvestasikan dananya kedalam instrumen saham tentunya menginginkan return yang tinggi. Return dari saham dapat diperoleh dari capital gain maupun dari dividen.
 Menurut the bird in hand theory yang dikemukakan oleh Gordon (1963) menyatakan bahwa investor lebih memilih dividen karena dianggap lebih pasti dibandingkan dengan capital gain. Sementara jika dikaitkan dengan pajak, maka investor cenderung lebih memilih capital gain. Hal ini karena pajak dari dividen lebih tinggi dibandingkan dengan pajak capital gain.
Begitu pentingnya peranan dividen, maka perusahaan enggan melakukan pemotongan terhadap dividen. Hal ini dikarenakan karena adanya efek signaling ( Bhattacharya,1979). Perusahaan yang melakukan pemotongan dividen memberikan signal yang buruk bagi investor yang menandakan bahwa kondisi keuangan perusahaan kurang bagus sehingga permintaan pasar terhadap saham perusahaan tersebut akan turun yang artiya para investor enggan untuk menanamkan sahamnya di perusahaan tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika perusahaan menaikan dividen, memberikan signal kepada para investor bahwa kondisi keuangan perusahaan sedang bagus. Dengan adanya efek signaling tersebut maka perusahaan harus menjamin dividen terhadap investor.[4]
C.    Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Dalam membagikan dividen, perusahaan harus memperhatikan beberapa faktor, antara lain:
1.   Dividend Payout Ratio industri di mana perusahaan itu berada. Artinya, perusahaan tidak boleh mengabaikan kebijakan dividen perusahan lain
2.   Kesempatan investasi. Kebijakan dividen perusahaan jangan sampai mengorbankan proyek yang dapat meningkatkan value pemegang saham di masa yang akan datang. Semakin besar kesempatan investasi maka dividen yang bisa dibagikan akan semakin sedikit.
3.   Profitabilitas dan Likuiditas. Kebijakan dividen perusahaan sebaiknya memperhitungkan profitabilitas dan likuiditas perusahaan. Aliran kas atau profitabilitas yang baik bisa membayar dividen atau meningkatkan dividen. Alasan lain pembagian dividen adalah untuk menghindari akuisisi oleh perusahaan lain.
4.   Akses ke pasar keuangan. Jika perusahaan mempunyai akses ke pasar keuangan yang baik, perusahaan bisa membayar dividen lebih tinggi. Akses yang baik bisa membantu perusahaan memenuhi kebutuhan likuiditasnya.
5.   Pertumbuhan pendapatan perusahaan. Jika pendapatan perusahaan mengalami pertumbuhan, maka jumlah pembayaran dividen dapat dinaikkan. Sebab dengan adanya tambahan pendapatan maka dividen dan laba ditahan juga bertambah.
6.   Stabilitas pendapatan. Jika pendapatan perusahaan relatif stabil, aliran kas di masa mendatang bisa diperkirakan dengan lebih akurat. Perusahaan semacam itu bisa membayar dividen yang lebih tinggi. Hal yang sebaliknya terjadi untuk perusahaan yang mempunyai pendapatan yang tidak stabil. Ketidakstabilan aliran kas di masa mendatang membatasi kemampuan perusahaan membayar dividen yang tinggi.
7.   Prefensi pemegang saham dan keleluasaan untuk menyimpang dari maksimisasi kemakmuran.
8.   Ketersediaan dan biaya alternatif sumber dana. Apabila biaya modal tinggi, maka penggunaan laba ditahan akan semakin menarik.
9.   Pembatasan-pembatasan yang diberikan kreditur. Kadang-kadang para kreditur bisa memberikan batasan mengenai jumlah pembayaran dividen yang boleh dilakukan perusahaan. Tindakan itu biasanya dilakukan agar perusahaan mampu mengarahkan usahanya dalam pelunasan hutang.
  1. Harapan mengenai kondisi bisnis pada umumnya. Pada waktu inflasi mungkin laba cenderung naik sehingga manajemen dapat menaikkan pembayaran dividen. Dengan demikian, dalam keadaan inflasi, pendanaan melalui pinjaman akan lebih menarik, bandingkan dengan menggunakan laba ditahan.
D.       Kebijakan Pemberian Dividen[5]
Kebijakan dividen merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiyaan di masa yang akan datang. Ada beberapa bentuk pemberian dividen secara tunai atau cash devidend yang diberikan oleh perusahaan kepada pemegang saham. Bentuk-bentuk kebijakan dividen tersebut adalah:
1. Kebijakan pemberian dividen stabil
Kebijakan pemberian dividen yang stabil ini artinya akan diberikan secara tetap per lembar sahamnya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba yang diperoleh perusahaan berfluktuasi. Kebijakan pembayaran dividen yang stabil ini banyak dilakukan oleh perusahaan, karena beberapa alasan :
a.       Bisa meningkatkan harga saham, sebab dividen yang stabil diprediksi memiliki risiko yang kecil.
b.      Bisa memberikan kesan kepada para investor bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa akan datang.
c.       Akan menarik investor yang memanfaatkan dividen untuk keperluan konsumsi sebab dividen selalu dibayarkan.


2. Kebijakan dividen yang meningkat
Dengan kebijakan ini, perusahaan akan membayarkan dividen kepada pemegang saham dengan jumlah yang selalu meningkat dengan pertumbuhan yang stabil.
3. Kebijakan dividen dengan rasio yang konstan
Kebijakan ini memberikan dividen yang besarnya mengikuti besarnya laba yang diperoleh oleh perusahaan. Semakin besar laba yang diperoleh, semakin besar dividen yang dibayarkan. Demikian pula sebaliknya bila laba kecil, dividen yang dibayarkan juga kecil.
4. Kebijakan pemberian dividen reguler ditambah ekstra
Kebijakan pemberian dividen, dengan cara ini perusahaan menentukan jumlah pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudian ditambahkan dengan ekstra dividen bila keuntungannya mencapai jumlah tertentu.
Kebijakan dividen yang yang optimal pada pada suatu perusahaan adalah kebijakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa mendatang sehingga memaksimumkan harga saham. Secara umum ada tiga dasar dari kebijakan dividen, antara lain:
1. Kebijakan dividen biasa
Pada kebijakan dividen biasa atau reguler dividend policy, perusahaan membayar dividen per lembar saham dalam rupiah yang tetap setiap periode. Kebijakan ini meniadakan keragu-raguan investor atau pemegang saham sekaligus menginformasikan bahwa perusahaan dalam keadaan baik dan lancar. Pada kebijakan ini dividen per lembar saham tidak pernah turun.
2. Kebijakan dividen dengan persentase tetap pembayaran dividen tunai
Kebijakan ini dikenal dengan nama constant payout ratio dividend policy.
3. Kebijakan dividen rendah plus ekstra
Kebijakan ini dikenal dengan nama lower reguler and ekstra dividend policy. Menurut kebijakan ini perusahaan membayar dividen tunai secara rutin setiap periode dalam jumlah yang tetap dan rendah. Jika laba perusahaan periode yang bersangkutan sangat baik maka jumlah pembayaran tetap tersebut akan ditambah pembayaran dividen ekstra. Pada jumlah pembayaran reguler atau biasa, yang tetap ini menjamin kepastian bagi pemilik saham dan karena jumlahnya rendah hal ini juga akan menenteramkan perusahaan. Pada laba yang sangat bagus, perusahaan akan membayarakan ekstra dividen bagi pemegang saham. Pembayaran ekstra ini akan disambut baik oleh pasar dan akan menaikkan harga saham.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dividen adalah laba yang diperoleh perusahaan untuk dibagikan kepada pemegang saham.
Kebijakan dividen adalah kebijakan pembagian pendapatan yang harus diikuti dalam membuat keputusan dividen (dibagikan/ditahan).
Kebijakan dividen merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan oleh manajemen dalam mengelola perusahaan. Hal ini karena kebijakan dividen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap banyak pihak, baik perusahaan yang dikelola itu sendiri, maupun pihak lain seperti pemegang saham dan kreditur.
B.     Saran
Dalam mempelajari materi dividen ini penyusun menyarankan selain menguasai pengertian, urgensi, serta faktor-faktor yang mempengaruhi dividen, perlu juga memperingatikan dua aspek berikut ini.
Pembagian dividen oleh manajemen harus didasari dengan pertimbangan yang seksama, yaitu dengan memperhatikan sekurang-kurangnya aspek keuangan dan aspek hukum. Aspek keuangan wajib diperhatikan karena pembagian dividen tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor keuangan. Aspek hukum wajib diperhatikan karena pembagian dividen harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku. Meskipun tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan pemegang saham.

DAFTAR PUSTAKA

Achtighk.Blogspot.Com/Manajemen-Keuangan-Deviden.Html, Di Akses Tanggal 18 Desember 2014.
Mystic-Mirotic.Blogspot.Com/Pengertian-Kebijakan-Dividen-Teori. Html, Di Akses Tanggal 18 Desember 2014.
Odytanpar.Blogspot.Com/ Kebijakan - Dividen. Html, Di Akses Tanggal 18 Desember 2014.
Repository. usu. ac. Id/ Kebijakan – Dividen. Pdf,  Di Akses Tanggal 18 Desember 2014.
Ridwan S. Sundjaja – Inge Barlian. Manajemen Keuangan Dua. Jakarta: PT. Prenhallindo, 2001




[1]  Http:// Achtighk.Blogspot.Com/Manajemen-Keuangan-Deviden.Html
[2]  http:// Odytanpar.Blogspot.Com/ Kebijakan - Dividen. Html
[3]  http:// Mystic-Mirotic.Blogspot.Com/Pengertian-Kebijakan-Dividen-Teori. Html
[4]  Http:// Repository. usu. ac. Id/ Kebijakan – Dividen. Pdf
[5] Ridwan S. Sundjaja – Inge Barlian, Manajemen Keuangan Dua, PT Prenhallindo 2001 (Jakarta), h., 129.

KONSEP BIAYA MODAL KERJA

BAB II
PEMBAHASAN 
A.    Pengertian Biaya Modal Kerja
Modal yang dibutuhkan untuk membiayai operasi perusahaan terdiri atas modal asing dan modal sendiri. Modal asing merupakan modal yang berasal dari pinajaman para kreditur, supplier dan perbankan.
Sedangkan modal sendiri merupakan modal yang berasal dari pihak perusahaan baik dari pemilik perusahaan (pemegang saham) maupun laba yang tidak dibagi (laba ditahan).
Di dalam memenuhi modal yang dibutuhkan tersebut perusahaan dapat menerbitkan dan menjual surat berharga berupa obligasi (modal pinjaman) dan saham (modal sendiri). Surat berharga tersebut dijual kepada para investor, maka perusahaan berkewajiban memberikan hasil (return) yang dikehendaki oleh investor tersebut. Hasil yang dikehendaki oleh investor tersebut, bagi perusahaan merupakan biaya yang disebut Biaya Modal seperti biaya bunga, biaya penurunan nilai surat berharga dan biaya lain yang berkaitan dengan perolehan modal tersebut.
Jadi dapat disimpulkan bahwa : Biaya modal (Cost of Capital) adalah biaya riil yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana, baik yg berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa, dan laba ditahan untuk mendanai suatu investasi atau operasi perusahaan.[1]
Penentuan besarnya biaya modal dimaksudkan untuk mengetahui berapa besarnya biaya riil yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh dana yang diperlukan.
Perlu diketahui bahwa, biaya penggunaan utang yang secara riil harus ditanggung oleh penerimaan kredit atau harga kreditnya (cost of debt) adalah lebih besar dari pada tingkat bunga menurut kontrak. Demikian pula kalau kita memenuhi kenutuhan dana dengan mengeluarkan saham prefern.
Dalam hal jumlah hasil penjualan saham prefern lebih kecil dari pada harga nominalnya, besarnya biaya penggunaan modal dari saham preferen atau biaya saham preferen (cost of preferred stock) adalah lebih besar dari pada tingkat deviden yang telah ditetapkan sebelumnya.
Biaya penggunaan modal yang explicit :
Dari suatu sumber dana adalah sama dengan discount rate yg dapat menjadikan nilai sekarang (present value) dari dana neto yang diterima perusahaan dari suatu sumber dana sama dengan nilai sekarang dari semua dana yang harus dibayarkan karena penggunaan dana tersebut beserta pelunasannya (seperti bunga, pembayaran pokok dan deviden).
Kemudian perlu diketahui bahwa, Biaya modal umumnya dihitung atas dasar sesudah pajak (after Tax)
Serta Biaya modal rata-rata (average cost of capital) digunakan sebagai ukuran untuk menentukan suatu usulan investasi diterima atau ditolak, dengan membandingkan cost of capital dengan rate of capital atas usul investasi.

Sebagai Contoh :
Misalnya, Tuan Ahmad akan meminjam uang sebesar Rp. 1.000.000 dengan bunga 2% per bulan untuk waktu 6 bulan. Biaya administrasi dan biaya lainnya Rp. 50.000.
Jadi :    Biaya memperoleh modal pinjaman adalah bunga ditambah biaya administrasinya :
=  (2% x 6 bln x Rp.1.000.000) + Rp. 50.000  =  Rp. 170.000.
Biaya modal per bulan  :
= (Rp. 170.000 : Rp. 1.000.000 ) : 6
= 0,0283 atau 2,83%. (lebih besar dari bunga menurut kontrak yang hanya 2 %)
B.     Pentingnya Biaya Modal Kerja
Nah, perlu diketahui bahwa Konsep biaya modal penting dalam pembelanjaan perusahaan, karena dapat dipakai untuk menentukan besarnya biaya yang secara riil harus ditanggung oleh perusahan untuk memperoleh modal dari berbagai sumber.
Ada beberapa alasan mengapa Perhitungan biaya modal sangat penting, yaitu, Karena :
1.    Maksimalisasi nilai perusahaan mengharuskan biaya-biaya (termasuk biaya modal) diminimumkan.
2.    Keputusan penganggaran modal ( capital budgeting) memerlukan estimasi biaya modal.
3.    Keputusan-keputusan penting lain seperti leasing dan modal kerja juga memerlukan estimasi biaya modal.
Biaya modal merupakan konsep penting dalam analisis investasi karena dapat menunjukkan tingkat minimum laba investasi yang harus diproleh dari investasi tersebut. Jika investasi itu tidak dapat menghasilkan laba investasi sekurang-kurangnya sebesar biaya yang ditanggung maka investasi itu tidak perlu dilakukan. Lebih mudahnya, biaya modal merupakan rata-rata biaya dana yang akan dihimpun untuk melakukan suatu investasi. [2]
Dapat pula diartikan bahwa biaya modal suatu perusahaan adalah bagian (suku rate) yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memberi kepuasan pada para investornya pada tingkat risiko tertentu.
Selanjutnya adapun fungsi dari biaya modal ini, yaitu :
a. Terkait dengan pajak yg dikenakan pd perusahaan.
Biaya modal yang dikenakan pada modal pinjaman berbeda dengan biaya modal dari modal sendiri.
Konsep perhitungan biaya modal didasarkan pd perhitungan :
Þ    sebelum pajak (before tax basis)
Perlu disesuaikan dulu dg pajak sebelum dilakukan peritungan biaya modal rata-ratanya seperti bligasi.
Þ    setelah pajak (after tax basis).

     b. Sebagai Discount Rate
Untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi yaitu dengan membandingkan tingkat keuntungan (rate of return) dari usulan investasi tersebut dengan biaya modalnya. 
Biaya modal di sini adalah biaya modal yang menyeluruh (overall cost of capital).
Misalnya jika kita menggunakan metode Net Present Value atau Profitability Index untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investai, maka biaya modal berfungsi sebagai "discount rate" yang digunakan untuk menghitung nilai sekarang dari proceeds dan pengeluaran investasi.

C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Biaya Modal[3]
Variabel-variabel penting yang mempengaruhi biaya modal antara lain:
a.       Keadaan-keadaan umum perekonomian.
Faktor ini menentukan tingkat bebas risiko atau tingkat hasil tanpa risiko.
b.      Daya jual saham suatu perusahaan.
Jika daya jual saham meningkat, tingkat hasil minimum para investor akan turun dan biaya modal perusahaaan akan rendah.
c.       Keputusan-keputusan operasi dan pembiayaan yang dibuat manajemen.
Jika manajemen menyetujui penanaman modal berisiko tinggi atau memanfaatkan utang dan saham khusus secara ekstensif, tingkat risiko perusahaan bertambah. Para investor selanjutnya meminta tingkat hasil minimum yang lebih tinggi sehingga biaya modal perusahaan meningkat pula.
d.      Besarnya pembiayaan yang diperlukan.
Permintaan modal dalam jumlah besar akan meningkatkan biaya modal perusahaan.

D.    Asumsi-Asumsi Model Biaya Modal
Asumsi-asumsi dalam model biaya modal diantaranya:
1.      Risiko bisnis bersifat konstan.
Risiko bisnis merupakan potensi tingkat perubahan return atas suatu investasi. Tingkat risiko bisnis dalam suatu perusahaan ditentukan dengan kebijakan manajemen investasi. Biaya modal merupakan suatu kriteria investasi yang hanya tepat untuk suatu investasi yang memiliki risiko bisnis setingkat dengan aktiva-aktiva yang telah ada.
2.      Risiko keuangan bersifat konstan.
Risiko keuangan didefinisikan sebagai peningkatan variasi return atas saham umum karena bertambahnya pemanfaatan sumber pemiayaan hutang dan saham istimewa.
3.      Kebijakan dividen bersifat konstan.
Asumsi ini diperlukan dalam menaksir biaya modal yang berkenaan dengan kebijakan dividen perusahaan.
E.     Jenis – Jenis Biaya Modal
1. Biaya Modal Individual : adalah biaya modal yang dapat dihitung berdasarkan biaya untuk masing-masing sumber dana.
a. Biaya Modal Hutang Jangka Pendek
b.  Biaya Modal Hutang Jangka Panjang
c.  Biaya Modal Saham Preferen
d.  Biaya Modal Saham Biasa dan Laba Ditahan
2. Biaya Modal Keseluruhan
Penjelasan :
1.    Biaya Modal Individual : adalah biaya modal yang dapat dihitung berdasarkan biaya untuk masing-masing sumber dana.[4]
a.      Biaya Modal Hutang Jangka Pendek
Hutang jangka pendek (hutang lancar) merupakan hutang yg jangka waktu pengembaliannya kurang dari 1 tahun, Hutang jangka pendek seperti  hutang perniagaan (trade account payable), hutang wesel & kredit jangka pendek dari bank.
Rumus : 
dimana :
            kt  =  Biaya hutang jangka pendek setelah pajak
            kb =  Biaya hutang jangka pendek sebelum pajak yaitu sebesar tingkat bunga hutang.
            t   =  Tingkat Pajak
Contoh :
Misalkan cash discount yang hilang selama 1 tahun sebesar Rp.5.000.000,- dan hutang perniagaan rata-rata  Rp.50 juta.
Maka, Biaya modal sebelum pajak = 5 juta / 50 juta = 10%

Misal pajak 40% ;

Biaya modal sesudah pajak = 10% x (100%-40%) = 6%


b.  Biaya Modal Hutang Jangka Panjang
Hutang jangka panjang terdiri dari hutang bank, obligasi dan hutang hipotik. Misalnya Soal yang berkaitan dengan Obligasi,
Rumus :
                   
Dimana :
          I           = Bunga obligasi satu tahun dalam rupiah
          N         = Harga nominal obligasi akhir umurnya
          Nb       = Nilai bersih penjualan obligasi
          n          = umur obligasi
Contoh :
PT. X mengeluarkan obligasi dengan nominal per lembar Rp. 25.000 dengan umur 10 tahun. Hasil penjualan netto yang diterima perusahaan sebesar Rp. 24.250 bunga per tahun 4 % dengan tingkat pajak 30 %.
Penyelesaian :

Bunga per tahun = Rp. 25.000 x 4% = Rp. 1.000

         1.000 + (25.000 – 24.250) / 10                1000 + 75
Kd = ------------------------------------------- =  --------------- =  0,0437 =  4,37 %
                  (24.250 + 25.000) / 2                       25.625

Kd  = 4,37% (1-0,3)  =  3,06%


c.     Biaya Modal Saham Preferen
Biaya penggunaan dana dari penjualan saham preferen (cost of preferred stock) dihitung dgn membagikan deviden per lembar saham preferen (Dp) dgn harga neto (net Price) yg diperoleh dari penjualan saham preferen per lembarnya. Rumus :
Kp = Dp / Pn

dimana :
          Kp          = biaya saham preferen
             Dp          = deviden saham preferen
              Pn          = harga saham preferen saat penjualan - biaya penerbitan
Contoh :
PT. X menjual saham preferen dengan nominal Rp. 15.000,- harga jual saham preferen sebesar Rp. 18.900,-. Deviden tiap tahun Rp. 1.500,- biaya penerbitan saham setiap lembar sebesar Rp. 150
Berapa biaya modal saham preferen (cost of preferred stock) ?
Jawab :   Maka,  Kp = 1.500 / (18.900 – 150) = 8 %

d.    Biasa Modal Saham Biasa & Laba ditahan
Biaya modal saham biasa merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan yang memeproleh dana dengan menjual saham biasa untuk investasi.
Biaya modal saham biasa dapat mengalami peningkatan secara internal dengan menahan laba atau secara eksternal dengan menjual atau mengeluarkan saham biasa baru.
Perusahaan dapat membagikan laba setelah pajak yang diperoleh sebagai deviden. Adapun Rumus yang digunakan adalah :
Ke = (D1 / P0) + g

Dimana :
Ke        = Biaya modal saham biasa
D1        = deviden yang diharapkan pada tahun pertama
P0         = harga pasar saham sekarang
g          = pertumbuhan deviden saham per tahun

Contoh :
Jika deviden saham PT. X diharapkan tumbuh sebesar 10 % per tahun, sedangkan deviden yang diharapkan pada tahun pertama sebesar Rp. 160 dan harga pasar saham sekarang Rp. 2.160.
Penyelesaian :
 Ke       = (D1 / P0) + g
            = (160/2.160) + 0,1
            = 0,074 + 0,1
            =  0,174 x 100  = 17,4%
~ Biaya Modal Laba Ditahan
Bila penggunaan dana yang berasal dari laba ditahan (retained earning) juga ada biayanya.
Besarnya biaya penggunaan dana yang berasal dari laba ditahan adalah sebesar biaya penggunaan dana yang berasal dari saham biasa.
Rumus :

Dimana :
Ke             = Biaya modal saham biasa
D1             = deviden yang diharapkan pada tahun pertama
P0             = harga pasar saham sekarang
g               = pertumbuhan deviden saham per tahun
F               = Biaya emisi

Contoh:
Suatu perusahaan mendapat keuntungan Rp.4.000 per lembar saham. Dan dibayar sebagai dividen sebesar Rp.2.000. Harga per lembar saham Rp.40.000. Tingkat pertumbuhan dividen sebesar 5%.Perusahaan akan mengeluarkan saham baru dengan biaya emisi 10%.Hitunglah biaya emisi saham baru.
Jawab :
 




2. Biaya Modal Keseluruhan
Biaya modal keseluruhan merupakan biaya modal yang memperhitungkan seluruh biaya atas modal yang digunakan oleh perusahaan.
Tingkat biaya modal yang harus dihitung oleh perusahaan adalah tingkat biaya modal perusahaan secara keseluruhan, karena masing-masing biaya modal berbeda maka untuk menetapkan biaya modal secara keseluruhan perlu menghitung "weighted average" dari berbagai sumber .
Penerapan " weight" atau bobot dapat berdasarkan :
a.    Jumlah rupiah dari masing-masing komponen struktur modal.
b.    Proporsi modal dalam struktur modal dinyatakan dalam prosentase
Dengan mengalikan masing-masing komponen modal dengan biaya masing-masing komponen modal dapatlah dihitung besarnya biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital).
Rumus :  
WACC = Wd.Kd (1-T) + Wp.Kp + We.Ke
Contoh :
Sumber Modal
Jumlah Rp.
Biaya Penggunaan Modal
Hutang Jangka Panjang
60 jt
6% (sebelum tax)
Saham Preferen
10 jt
7%
Modal sendiri
130 jt
10%
Jumlah
200 jt


Tingkat pajak perseroan = 25%.
Berapa Biaya Modal Rata-Rata ?
Jawab :
Biaya modal hutang (setelah pajak) = 6% x (100% -25%) = 4,5%
Þ    Cara 1 (menggunakan rupiah)
Komponen Modal
Jumlah Modal
Biaya Masing Komponen
Jumlah Biaya Komponen
1
2
3
4
Hutang Jk. Panjang
Rp. 60.000.000
0,045
Rp. 2.700.000
Saham Preferen
Rp. 10.000.000
0,07
Rp. 700.000
Modal sendiri
Rp. 130.000.000
0,1
Rp. 13.000.000
Jumlah
Rp. 200.000.000

Rp. 16.400.000

Jadi WCOC = (16,4 jt / 200 jt) x 100% = 8,2%

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari pembahasan diatas, adalah bahwa Biaya modal adalah  biaya riil yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana baik hutang, saham preferen, saham biasa maupun laba ditahan untuk mendanai suatu investasi perusahaan.
Biaya modal biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi yaitu dengan membandingkan rate of return dari usulan investasi tersebut dengan biaya modalnya.
 Perhitungan biaya penggunaan modal adalah penting berdasarkan tiga alasan berikut:
ü  Maksimalisasi nilai perusahaan mengharuskan biaya-biaya diminimumkan.
ü  Capital budgeting memerlukan estimasi tentang biaya modal
ü  Konsep biaya modal erat hubunganya dengan konsep mengenai pengertian tingkat keuntungan yang disyaratkan.
Biaya modal yang tepat untuk semua keputusan adalah rata-rata tertimbang dari seluruh komponen modal. Biaya modal harus dihitung berdasar basis setelah pajak, karena arus kas setelah pajak adalah yang paling relevan untuk keputusan investasi.



B.   Saran
Adapun saran yang kami berikan kepada pembaca adalah bahwa didalam mempelajari manajemen keuangan terkhusus mengenai perhitungan biaya-biaya, itu dibutuhkan kesabaran dan ketekunan di dalam mempelajari segala formula yang ada, kemudian lebih dari pada itu bahwa setiap dari kita di tuntut menjadi seseorang yang kritis akan sebuah ilmu, oleh kami selaku penulis, berharap ada kritik dan saran yang membangun yang dapat diberikan,demi perbaikan pembuatan karya ilmiah kami selanjutnya.
             
DAFTAR PUSTAKA

Arida-Sugar.Blogspot.Com/Biaya-Modal.Html, Di Akses Tanggal 30 Oktober 2014
Arisnurdin. Blogspot. Com/ Cara – Pandangqu – Analisa – Biaya -Modal. Html, Di Akses Tanggal 30 Oktober 2014
Infomanajerna.Blogspot.Com/Biaya-Modal-1.Html, Di Akses Tanggal 30 Oktober 2014
Ridwan S. Sundjaja – Inge Barlian. Manajemen Keuangan Dua. Jakarta: PT. Prenhallindo, 2001






[1]  Http://Infomanajerna.Blogspot.Com/Biaya-Modal-1.Html
[2]  Http://Arisnurdin.Blogspot.Com/Cara-Pandangqu-Analisa-Biaya-Modal.Html
[3] Http://Arida-Sugar.Blogspot.Com/Biaya-Modal.Html
[4] Ridwan S. Sundjaja – Inge Barlian, Manajemen Keuangan Dua, PT Prenhallindo 2001 (Jakarta), h., 129.